Pada jaman dahulu Desa Kahiyangan merupakan salah satu kampung yang hanya berpenduduk 2 Kepala Keluarga, alkisah kepala keluarga yang bernama Eyang BUJANGGA adalah orang yang sakti manraguna yang bisa menundukan para Jin yang menduduki di salah satu tempat yang sekarang disebut sebagai CIBUJANGGA.
Dari 2 Kepala Keluarga berkembang menjadi salah satu kampung yang berpenduduk cukup banyak dan pada waktu itu Eyang BUJANGGA diangkat menjadi sesepuh/kepala kampung serta kehidupan di kampung tersebut cukup aman, damai, tentram dan sejahtera.
Pada perjalanan kepemimpinannya Eyang BUJANGGA wafat dan tambuk kepemimpinan diserahkan kepada Putranya yang bernama Buyut BONI. Berselang satu tahun setelah Eyang BUJANGGA wafat kampung tersebut ada yang menyerang sehingga terjadi pertempuran yang cukup lama yaitu tujuh hari tujuh malam, dalam pertempuran tersebut banyak sekali kejadian-kejadian diluar nalar pemikiran manusia biasa, seperti Kitab-kitab yang dimiliki Eyang BUJANGGA berterbangan dan jatuh di Desa Silebu dan Desa Patalagan serta ada juga pohon Bambu yang terbang dan jatuh di Desa Sarewu yang sekarang dikenal dengan Bambu Kahiyangan (dalam bahasa Sunda Awi Kahiyangan).
Dihari terakhir pertempuran Eyang BUJANGGA (mungkin dengan kesaktiannya) memberikan isyarat kepada Buyut BONI bahwa kampung tersebut karus diberi nama KAHIYANGAN dan semenjak itu kampung tersebut di sebut Kampung KAHIYANGAN dan sekarang dikenal dengan nama DESA KAHIYANGAN.
(Sejarah ini diambil dari berbagai sumber dan sesepuh Desa Kahiyangan yang masih hidup).


